Memanfaatkan Lingkungan Sekolah sebagai Sumber Belajar


Memanfaatkan Lingkungan Sekolah sebagai Sumber Belajar



Anggota masyarakat dalam lingkungan sosial dapat digunakan sebagai sumber belajar, yang dinamakan manusia sumber atau nara-sumber. Sekali-kali guru hendaknya nara-sumber dengan memanggil orang yang berpengalaman atau ahli dalam bidang tertentu, misalnya dalam bidang kesenian, pertanian, atau industri rumah tangga.Pemilihan topik hendaknya didasarkan atas fantor yang menggairahkan dan menarik siswa untuk dipelajari. Penentuan suatu topik dipilih hendaknya mengandung syarat-syarat sebagai berikut :

1. Sesuai dengan garis-garis Besar Haluan Besar Program Pengajaran (GBPP),
2. Dapat menarik perhatian siswa,
3. Hidup dan berkembang di tengah-tengah masyarakat,
4. Dapat mengembangkan keterampilan memproseskan masyarakaat,
5. Berhubungan erat dengan lingkungan siswa, serta
6. Dapat mengembangkan pegalaman dan pengetahuan siswa.

Guru dapat memanfaatkan barang-barang bekas yang dianggap kurang bernilai sebagai alat bantu belajar, seperti tutup botol, sandal bekas, bungkus plastik, dan kaleng. Batu-batuan dan kerang-kerangan terdapat pada banyak tempat. Bagaimana memanfaatkan barang bekas secara sederhana sebagai alat bantu belajar ?

- Tutup botol, batu-batuan, kerang-kerangan, dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk mempelajari bilangan dalam matematika.
- Kaleng dimanfaatkan untuk mecam-macam keperluan setiap mata pelajaran, seperti untuk mengukur volume, membuat kincir air, dan tempat menyimpan tumbuhan.
- Bahan sisa dari kayu dapat digunakan untuk membuat bentuk bagunan, seperti persegi panjang, segi tiga, dan kubus.

Contoh-contoh ini hanya merupakan bagian kecil. Sebenarnya bahan-bahan tersebut bersifat serba guna, dapat digunakan untuk bermacam-mcam kebutuhan.Berbagai peluang yang mucul dari lingkunga perlu dimanfaatkan. Sebagai contoh, pada suatu hari tejadi banjir besar yang melanda desa dekat sekolah sehingga merusak rumah penduduk. Kesempatan ini dapat digunakan sebagai sumber belajar. Dari topik banjir, kita kemukakan pertanyaan-pertanyaan : bagaimana terjadi hujan ? mengapa hujan ini menyebabkan banjir besar? Siapa yang mendatangkan kerugian? Siapa yang bertanggung jawab?Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan masalah yang harus dijawab atau dipecahkan melalui proses belajar-mengajar yang aktif. Siswa dibimbing untuk mengamati apa yang terjadi, mengalisis data, mensintesis, dan membuat kesimpulan. Akhirnya mereka membuat sebuah lapran tentang perinstiwa banjir yang mengandung jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu.Dalam menggunakan lingkungan sebagi sumber belajar, guru harus memperhatikan agar lingkungan tidak membahayakan keselamatan siswa dan guru, menunjang pencapaian tjuan instruksional dalam GBPP, dan terjangkau oleh kemampuan siswa.Kepala sekolah, selaku pembina, dapat merenungkan haal-hal berikut ini :

- Apakah sekolah yang kita bina telah menggunakan sumber yang terdapat dalam masyarakaat.
- Pernahkah siswa mengadakan karyawisata?
- Pernahkah siswa berjalan keliling sekolah?

            Kalau pernah, apa yang mereka lihat? Bagaimana mereka memanfaatkan informasi yang mereka peroleh?

- Sudahkah mereka meanfaatkan gedung sekolah dan halaman sekolah scara optimal untuk proses belajar-mengajar, misalnya untuk mengukur dan menghitung, membuat peta, atau untuk mengklasifikasi?
- Apakah mereka membawa kumpulan benda yang mereka temukan pada waktu berjalan-jalan ke dalam kelas dan memanfaatkannya?
- Pernahkah mereka membawa sesuatu yang biasa mereka temukan sehari-hari ke kelas untuk dipelajari?.
- Apakah hasil usaha siswa dapat dilihat pada dinding, papan tulis, buku catatan, lemari kelas, atau tempat yang lain? Apakah peristiwa-peristiwa yang menarik diperhatikan siswa? Apakah ada benda-benda pernah dibawa ke dalam kelas dan nara-sumber diundang sebagai sumber belajar? Perhatikan ilustrasi belajar di luar kelas dan lingkungan sebagai sumber belajar.

0 komentar:

Posting Komentar

 
;